Selasa, 06 Maret 2012

TALKIN’ WITH MYSELF

Saya punya kebiasaan ini.

Bukan. Bukan karena saya gila atau depresi saya bicara pada diri sendiri. Bukan juga karena keepribadian saya ganda saya suka kebiasaan ini. Ini adalah salah satu cara yang saya gunakan untuk memecahkan masalah. Kok bisa?

Ada quotes yang bilang,”Never tell your problem to anyone. 20% don’t care and 80% would gladly to hear that”. Menurut saya quotes ini perlu di revisi sedikit, karena saya percaya ada 1% yang would gladly to help us. Karena cuma ada 1 persen, maka harus selektif banget saat memilih orang untuk diajak bicara soal permasalahan kita.

Saya menyarankan keluarga daripada teman sebagai tempat curhat. Orang tua, bagi saya adalah teman curhat yang paling baik.I could tell everything to my mom. Dan saya percaya ibu saya nggak akan membocorkan curcolan saya ke siapa-siapa. Namun jika kalian punya sahabat yang bener-bener bisa dipercaya, ya nggak apa-apa kalian ceritakan pada mereka. Intinya adalah jangan salah memilih ‘tempat sampah’ saat ‘membuang’ curhatan kalian. ‘Tempat sampah’ yang tidak tertutup rapat bisa menyebarkan ‘bau’ kemana-mana kan?

Saat saya menghadapi suatu masalah, biasanya saya ceritakan pada orang tua, atau kakak saya. Tapi karena kita nggak bisa ketemu langsung dan biasanya curcol lewat telepon. Hal ini kadang belum bisa membantu saya menuntaskan masalah hingga ke akarnya. Sesaat setelah cerita masalah kita memang sudah terasa lega, tapi tetap saja masih ada yang mengganjal sehingga setelah itu saya biasanya melakukan hal ini: Talkin’ with myself.

Cara melakukan Talkin’ wth myself ini sebenarnya sangat mudah. Jadi kalian men-setting diri kalian bagaikan dua orang yang saling bercakap-cakap. Satu orang diposisikan sebagai dirimu sendiri (orang yang punya masalah—disebut sebagai si Aku), dan satu lagi sebagai seorang lain yang memandang dari perspektif luar (bisa dikatakan sebagai si bijak). Lalu mulailah percakapan, dimulai dari ”Mengapa kamu bersedih? Apa masalahnya?” ketika si Aku menceritakan masalahnya, cobalah kamu berpikir sebagai si bijak yang memandang masalah tersebut dari luar. SI bijak akan melontarkan pertanyaan balik mengenai mengapa si Aku harus bersedih, padahal si Aku sebenarnya melebihi kelebihan bla bla bla.. si Aku masih punya bla bla bla… intinya si Bijak memberikan sugesti positif terhadap si Aku. Namun sebaliknya, kita juga berpikir sebagai si Aku yang selalu menyangkal apa yang dikatakan si Bijak. Hingga saaatnya si Aku tak mampu menyangkal lagi dan si bijak telah sampai di solusi akhir, katakan pada diri kalian,” Oke, jadi saya harus begini,. Bla bla bla..” dan akhiri dengan memberi semangat pada diri sendiri,”Aja aja Fighting!”—misalnya. Dan rasakan bahwa sebenarnya masalah kalian tidak seberat itu. Bahkan kalian sendiri masih bisa menyelesaikannya.

Pernah denger kan istilah,”The answer is in you”. Ya itulah maksudnya. Kalian bisa menemukan jawaban masalah kalian dalam diri kalian sendiri jika kalian bicara baik-baik pada diri sendiri. Tentu saja Talkin with Myself ini tidak bisa dilakukan jika diri sendiri sudah dalam keadaan yang nggak compos mentis (sadar penuh).

Jadi, nggak ada istilahnya galau akut karena istiah banyak masalah. Kalau kalian masih belum puas dengan Talkin’ with myself, mintalah second opinion ke orang-orang yang kamu. Percayalah. Semoga kita diljauhkan dari kegalauan yang terkutuk (duile bhasanya)

Wah, saya berasa seperti dokter Spesialis Kejiwaan. Barangkali 7 tahun lagi gelar Sp.KJ (K) melekat dibelakang nama saya. Who knows? *diem-diem ngaminin*

SO,WANNA TRY TALKIN’ WITH YOURSELF GUYS?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

leave your trace here. tinggalkan komentar disini ^^
Jika ingin menggunakan emoticon diatas, jangan lupa hurufnya diapit oleh titik dua (:) yah
pilih profil sesuai ID kamu atau pilih name/url, url boleh kosong kok :)